Contoh pidato khutbah jumat

Contoh pidato khutbah jumat – Menunaikan ibadah sholat adalah wajib hukumnya bagi setiap umat muslim, terutama sholat fardhu yang ditunaikan 5 waktu dalam sehari. Adapun sholat dibagi menjadi 2 sholat wajib dan sholat sunat, Sholat jumat sendiri hukumnya adalh wajib bagi kaum laki-laki.

Dalam khutbah jumat, terdiri dari dua bagian, yakni khutbah pertama dan khutbah kedua, adapun tata cara dalam pelaksanaan sholat jumat adalah sebagai berikut :

1. Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.

2. Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.

3. Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.

Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar

4. Khutbah kedua: Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai

5. Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.

  • Membaca Hamdalalah
  • Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
  • Wasiat Taqwa
  • Membaca  Ayat Alqur’an
  • Berdoa di akir khutbah

Berikut ini beberpa referesni tema contoh khutbah jumat ;

Khutbah Sholat jumat tentang kewajiban bekerja

Judul Spoiler:

Alhamdulillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiati a’malinaa. Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudlil falan tajidalahu waliyyan mursyidan. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Marilah selalu kita bertakwa kepada Allah Swt., dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan hanya ucapan, melainkan takwa yang diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan, dengan senantiasa menjalankan semua perintah Allah Swt., dan menjauhi segala larangan-Nya, dalam keadaan ramai ataupun sepi. Sungguh beruntung orang yang bertakwa, beruntung di dunia dan bahagia di akhirat.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya manusia memiliki kewajiban menjaga kehidupan dirinya sendiri dan kehidupan orang yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu member nafkah setiap hari berupa makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan lainnyayang perlu dicukupi, sesuai dengan kemampuanyang ada. Akan tetapi darimana kebutuhan nafkah bisa diperoleh kalau kita tidak bekerja sambil mengharap rahmat Allah Swt.? Bekerja yang kita lakukan namanya ikhtiar.

Oleh sebab itu, marilah kita rajin dalam berusaha dan bekerja. Bekerja apa saja asal dengan jalan yang benar dan halal. Misalnya, berusaha dan bekerja di bidang pertanian, perdagangan, menjadi buruh atau menjadi pegawai, menjadi pengusaha dalam bidang jasa dan sebagainya. Kalau bidang-bidang itu telah kita usahakan, akan tetapi belum berhasil, kita tidak boleh putus asa. Kita harus mencari jalan lain sehingga Allah Swt., member jalan kelapangan bagi kita. Rasulullah Saw., telah bersabda :

Carilah rezeki oleh kamu sekalian di dalam tumbuh-tumbuhan bumi.” (HR. Abu Ya’la, Thabarani dan Baihaqi dari Aisyah)

Dalam hadist lain Rasulullah Saw bersabda :

Carilah segala kebutuhan disertai dengan kebesaran jiwa karena setiap perkara itu berjalan bersama-sama dengan takdir (ketentuan).” (HR. Ibnu Asyakir dari Abdullah bin Bisyr).

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Jadi bekerja itu merupakan perbuatan terpuji, bahkan termasuk amalan takwa jika kita mengetahui cara-caranya. Itulah sebabnya orang-orang yang shaleh dan para Nabi pada masa hidupnya tidak pernah melupakan bekerja untuk nafkah keluarganya. Sebagaimana yang terjadi pada Nabi Daud As., beliau setiap hari tekun membuat pakaian dari besi, lalu dijual kepada kaumnya. Dari hasil itu beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan dirinya, keluarganya, dan untuk menegakkan agama Allah.

Rasulullah Saw., dalam sejarahnya juga termasuk orang yang giat bekerja. Pada mulanya beliau bekerja menggembala kambing milik pamannya. Setelah beliau menginjak usia muda, beliau berdagang menjajakan dagangan Siti Khadijah. Kemudian setelah dewasa dan memperoleh pangkat kenabian, beliau bekerja lewat perjuangan memerangi orang-orang kafir yang menentang agama Islam. Dari peperangan itulah beliau mendapat harta rampasan perang yang kemudian beliau mendapat bagian darinya.

Imam Ahmad bin Hanbal juga mengatakan, bahwa para sahabat Rasulullah Saw., berdagang di daratan dan di lautan, serta mengola kebun kurma. Rasulullah Saw., bersabda :

Seseorang tidak makan yang lebih baik dari makanan yang ia hasilkan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud As., makan dari hasil pekerjaan tangannya.” (HR. Imam Bukhari)

Lalu bagaimana cara-cara bekerja yang baik dan diridhai oleh Allah, sehingga pekerjaan itu termasuk ibadah yang mendapatkan pahala ? Caranya ialah :

1. Setiap akan berangkat bekerja, niatkanlah untuk beribadah, mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sebab, segala sesuatu tergantung pada niatnya. Rasulullah Saw., bersabda :
“Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu tergantung dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya itu menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya pun sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya itu menuju kepada dunia yang bakall diperolehnya, atau kepada wanita yangbakal dinikahinya, maka hijrahnya itu sebatas pada apa yang ia hijrahi. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mencari pekerjaan yang halal dan diridhai Allah. Meskipun hanya menjadi buruh tani atau penjual minuman di pinggir jalan, atau menjadi pegawai rendahan, yang hasilnya tidak seberapa, hal itu lebih baik dari pada menjadi Bandar kasino, tukang tadah, perampok, koruptor dan sebagainya. Rasulullah Saw., bersabda :
“Mencari harta yang halal itu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Thabrani)

3. Selalu bersyukur kepada Allah Swt., setiap memperoleh hasil meskipun hasilnya sedikit. Jangan sekali-kali menggerutu apabila pekerjaannya tidak memberikan hasil atau untung. Firman Allah Swt., di dalam al Qur’an surah Ibrahim ayat 7 :
“Jika kalian semua bersyukur, niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian ingkar, ingatlah bahwa siksa-Ku sangat pedih.”

4. Jujur, karena kejujuran merupakan modal utama untuk mencapai kesuksesan. Rasulullah Saw. Bersabda:
“Kalian wajib berlaku benar (jujur), karena sesungguhnya kebenaran itu selalu bersama-sama dengan kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga. Dan takutlah kalian dengan dusta, karena dusta itu selalu bersama-sama dengan kejahatan, dan kejahatan itu tentu menunjukkan kepada neraka.”

Demikian beberapa cara bekerja yang baik dan dirihai Allah Swt. Kalau cara-cara itu bisa diamalkan oleh setiap orang yang bekerja maka dia bukan hanya memperoleh hasil jerih payahnya saja, melainkan juga pahala dari Allah-pun ia perolehnya karena apa yang ia kerjakan itu adalah ibadah.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Selain apa yang telah diuraikan diatas, maka perlu kita ketahui pula bahwa di dalam bekerja jangan sampai melupakanibadah wajib yang rutin harus dikerjakan. Misalnya shalat 5 waktu atau shalat jumat, meskipun di saat pekerjaan itu tidak boleh ditinggalkan atau dalam keadaan sibuk.

Justru hal itu adalah ujian yang berat bagi kita. Karenanya hentikan pekerjaan untuk sementara waktu, lalu tunaikan shalat dengan khusyu’, selanjutnya selesaikanlah pekerjaan itu dengan baik. Itulah realisasi takwa dalam bekerja, sebagaimana yang diisyaratkan Allah Swt dalam firman-Nya yaitu dalam surah al-Jumuah ayat 10:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi , dan carilah karunia Allah dan selalulah mengingat Allah supaya kamu beruntung.

Jelaslah bahwa bekerja memiliki nilai yang sangat luhur dan mendapat tempat tersendiri di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Dengan bekerja telah memberikan makna “keberadaan diri kita di hadapan Allah dan Rasul-Nya”. Bagi kita yang telah menyadari makna bekerja, akan menghadirkan nuansa dan suasana ketenangan batin yang didasarkan atas rasa keimanan kita kepada Allah Swt.

Secara optimal kita bekerja, berarti kita telah menyiapkan diri untuk menjadi yang terbaik. Secara tidak langsung kita telah menyadari bahwa bumi dihamparkan bukan sekedar tempat kita menumpang hidup, melainkan justru untuk kita olah sedemikian rupa agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih berarti.

“Barang siapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di waktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Semoga Allah Swt., memberikan petunjuk kepada dalam bekerja sehingga pekerjaan kita selalu diwarnai dengan ketakwaan. Amin.

Baarakallahu lii walakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’anii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakim. Wa taqabbala minni waminkum tilawatahu innahu huwas sami’ul ‘alimm. Wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahimin.

 

Khutbah Jumat tentang ujian dan musibah

Judul Spoiler:

Alhamdulillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiati a’malinaa. Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudlil falan tajidalahu waliyyan mursyidan. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Di dalam menempuh perjalanan hidup dunia yang fana (tidak abadi) ini, ummat manusia senantiasa mendapat ujian dan musibah. Silih berganti datangnya ujian dan berbagai macam bentuk musibah yang menimpa kehidupan manusia.

Allah Swt., berfirman kepada hamba-Nya sebagai berikut :

Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata : Kami telah beriman, tetapi mereka tidak diuji ?” Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang dahulu sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui siapa orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut : 2 dan 3)

Ujian dan musibah itu sudah berlaku dan terjadi kepada ummat manusia sejak zaman dahulu kala, bahkan terjadi kepada diri dan keluarga para Nabi dan Rasul Allah, seperti yang terjadi pada keluarga Nabi Ya’kub As. Yaitu ketika putra Nabi Ya’kub As., yang bernama Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya, dengan cara menipu orang tuanya. Setelah beberapa tahun lamanya Yusuf belum ditemukan, kemudian Benyamin juga tertahan di Mesir. Maka Nabi Ya’kub As., mengalami kesedihan dan penderitaan, ujian dan musibah datang silih berganti tidak henti-hentinya.

Perjalanan hidup manusia tidak selalu mendatar di atas jalan yang licin, adakalanya mereka berjalan mendaki di atas bukit dan menurun ke jurang melalui batu-batu kerikil, bahkan mereka diserbu angin topan di padang pasir dan dihempas gelombang sambung menyambung di samudra luas.

Dalam menghadapi ujian dan musibah itu, pertahanan yang sangat ampuh adalah bersikap sabar. Pengertian sabar menurut arti bahasa ialah: “Teguh hati tanpa mengeluh di timpa bencana”. Sabar itu adalah sikap dan pancaran yang timbul dari dalam hati yang paling dalam karena sikap taslim atau istislam, yakni berserah diri kepada ketentuan Ilahi, setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Orang yang bersikap sabar sebelum melaksanakan usaha atau ikhtiar secara bersungguh-sungguh itu namanya malas. Dan orang yang bersikap sabar demikian karena tiada pilihan lain menerima saja, juga tidak dinamakan sabar, tetapi sikap itu adalah berputus asa.

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak putus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Begitu ummat yang pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari ujian dan musibah itu, akan tampillah mereka menjadi ummat yang benar-benar beriman, karena firman Allah Swt., di atas memberikan keterangan kepada ummat yang beriman, sebagai berikut :

1. Ummat yang beriman senantiasa akan diuji di dalam perjuangan hidupnya, baik pribadi dan keluarganya, maupun jamaahnya.

2. Ummat sebelum ummat manusia yang sekarang inipun telah diberikan berbagai ujian, seperti pada Nabi, Rasul, sahabat ulama dan pemimpin Islam.

3. Ujian dan musibah itu adalah untuk memilih siapa di antara ummat manusia yang tabah dan teguh memegang akidah, dan siapa di antara ummatnya yang sabar dan ikhlas atau yang pembohong.

Ujian dan musibah itu datang dalam berbagai macam bentuk dan sifatnya, seperti yang dijelaskan Allah Swt., didalam Al Qur’an sebagai berikut :

Sesungguhnya Kami akan beri kamu ujian dengan sebagian daripada ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan; dan berilah berita yang menyenangkan kepada mereka yang sabar. ” (QS. Al Baqarah: 155)

Firman Allah Swt., itu memberikan 5 macam bentuk ujian dan musibah, yaitu :

1. Sifat takut (Al khauf)
Sifat takut ini dimiliki manusia sejak zaman dahulu, di samping memiliki sifat pemberani. Nabi Muhammad Saw., dan para sahabatnya walaupun sudah melakukan hijrah, namun ancaman dan tekanan dan orang-orang kafir dan musyrik di Mekkah terus dilancarkan dalam berbagai bentuk tekanan dan intimidasinya.

Setelah tiba di kota Madinah Nabi Muhammad Saw., dan para sahabatnya disambut oleh kaum Anshar, juga mendapat ancaman dari kabilah di luar kota Madinah, fitnah datang dari kaum Yahudi di Madinah, dan bangsa Romawi yang memegang kekuasaan di bagian utara juga akan menyerang Rasulullah Saw.

Kenyataan sifat takut itu pun dimiliki ummat Islam dewasa ini dalam menyampaikan dakwah dan ajaran Islam. Di antara sebab kemunduran ummat Islam dewasa ini adalah karena sifat takut itu banyak menguasai diri ummat Islam.

Sifat takut itu dapat mematikan semangat dan cita-cita, dan dapat melumpuhkan semangat perjuangan, bahkan sifat takut itu mendorong orang mendiamkan kejahatan dan kemungkaran, karena takut menegakkan keadilan dan kebenaran hanya untuk keselamatan diri sendiri.

2. Kelaparan (Al Juu’)
Kelaparan dan kemiskinan tidak hanya terjadi pada zaman Rasulullah Saw., saja karena perjalanan hijrahnya, pada masa kini pun banyak terjadi kematian karena kelaparan, bukan hanya di Afrika terutama di Somalia, tetapi di dalam media cetak sudah diberitakan di Papua Barat sejak tahun 1982 samapai 1984 sejumlah orang mati karena kelaparan.

3. Kekurangan harta benda (Naqsun minal amwaali)
Ketika Rasulullah Saw., dan para sahabatnya hijrah, tidak membawa harta benda, yang mereka selamatkan hanyalah keyakinanagama Islam, hijrah yang dilakukannya hanyalah membawa cita-cita aqidahnya. Dewasa ini pun ummat manusia terancam kekurangan harta benda karena rugi dalam perdagangan, atau terkena musibah kebanjiran dan kebakaran.

4. Terancam keselamatan jiwa (Al Anfus)
Pada waktu Rasulullah Saw., dan sahabatnya hijrah dari Mekkah ke Madinah, kelurganya ditinggalkan, istri dan anak-anak ditinggalkan, hidup menanggung derita penuh ujian dan diliputi musibah. Ancaman dari kaum kafir dan musyrik berupa pembunuhan dan pembantaian sangat ganas dan beringas yang banyak mengakibatkan kematian di pihak ummat Islam. Dewasa ini ancaman keselamatan jiwa ummat Islam di berbagai Negara yang ada di dunia ini terus berlangung, seperti di Palestina, Afrika, Afghanistan, Pakistan dan sebagainya.

5. Kekurangan buah-buahan (Ats Tsamarat)

Akibat dari hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., sehingga para pengikutnya meninggalkan kebun-kebun kurma sebagai sumber makanan pokok pada waktu itu. Dan saat ini pun ummat manusia mengalami kekurangan buah-buahan atau sumber makanan pokok, karena kesukaran mencari tanah untuk bertani, atau sering terjadi kekeringan dan kebanjiran oleh karena kesalahan manusia dalam mengolah tanah dan hutan.

Hutan dibabat yang menimbulkan kebanjiran, atau kekeringan yang menimbulkan kebakaran-kebakaran atau pohon buah-buahan itu dimakan hama sehingga tidak menghasilkan buah-buahan yang sangat diperlukan.

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Ummat manusia dahulu dan sekarang senantiasa diuji oleh Allah Saw., perbedaannya terletak hanya pada situasi dan kondisi lingkungan hidupnya, dan terletak pada peristiwanya saja. Namun semua ujian dan musibah itu akan dirasakan oleh ummat manusia sebagai derita yang menimpa hidupnya.

Setelah ummat manusia secara merata terkena ujian dan berbagai macam bentuk musibah, Allah Swt., memerintahkan kepada Rasul-Nya

Sampaikanlah berita gembira kepada ummat yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Baarakallahu lii walakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’anii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakim. Wa taqabbala minni waminkum tilawatahu innahu huwas sami’ul ‘alimm. Wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahiminn.

 

Khutbah jumat tentang Pola hidup sederhana

Judul Spoiler:

Alhamdulillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiati a’malinaa. Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudlil falan tajidalahu waliyyan mursyidan. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jemaah Sidang Jumat Rahimakumullah

Dalam kesempatan khutbah ini pertama kali khatib mengajak kepada hadirin ahli jum’ah, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah, yakni dengan meningkatkan berbagai amal shaleh sebagaimana yang diperintah-Nya, serta berusaha menjauhkan diri dari cengkraman nafsu syaitaniyah sebagaimana yang dilarang Allah Swt.

Di dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai persoalannya, kita hendaklah berpegang pada ajaran-ajaran agama yang memang benar-benar telah disediakan untuk membentengi hati dan akidah kita dari kesesatan.

Kita hendaknya menyadari pula bahwa harta benda, kedudukan dan kesempatan yang kita miliki semua ini adalah amanat Allah yang wajib kita pelihara dan kita tunaikan. Sehingga dengan kesadaran inilah kita tidak terpukau oleh kemewahan dunia, sebaliknya kita pun selalu mensyukurinya. Syukur dalam artian yang benar, yakni dapat menggunakan kenikmatan-kenikmatan itu pada tempatnya sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah Swt.

Pengaruh rasa syukur inilah yang menumbuhkan sikap jiwa yang tenang, tidak serakah, suka hidup bersahaja dan sederhana. Itulah sikap hidup muslim yang baik. Firman Allah Swt:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik”. (QS. Al-Ahzab:28)

Berdasarkan ayat ini, maka jelaslah bahwa pola hidup sederhana merupakan anjuran dalam Islam, sehingga suatu perceraian suami istri dapat terjadi karena sang istri terlalu menuntut kemewahan dalam hidup.

Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah

Pola hidup yang paling baik adalah hidup sederhana. Sedang hidup mewah dan serba berlebihan maupun hidup miskin yang serba kekurangan, keduanya mengandung keburukan yang merugikan manusia.

Hidup dalam kemewahan dan serba berlebihan akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

  • Berkurangnya rasa syukur kepada Tuhan, karena apabila telah terbiasa hidup mewah akan meremehkan yang menurut anggapannya kurang berarti.
  • Kemewahan mudah menuju kearah pemborosan harta. Hidup mewah cenderung kearah penghamburan harta yang tak ada nilai sosialnya sama sekali.
  • Kemewahan cenderung dapat menumpulkan perasaan, artinya perasaan menjadi tidak peka terhadap kepentingan orang lain, karena orang yang hidup mewah biasanya suka mementingkan dirinya sendiri.
  • Kemewahan dapat menuju kearah kesombongan yang tidak disukai Allah dan dibenci manusia
  • Orang biasa hidup mewah tidak akan tahan mengalami hidup menderita kemiskinan walaupun sekejap.

Sebaliknya hidup yang miskin dan serba kekurangan mengandung dampak negatif yang tidak kurang pula bahayanya, terutama akan mengganggu ketenangan jiwa. Diantara akibat buruk dari kemiskinan adalah sebagai berikut:

  • Kemiskinan dapat menimbulkan sikap frustasi dan apatis. Keinginan dan kebutuhan orang miskin yang tak kunjung terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Dan kekecewaan yang terus menerus merupakan suatu frustasi dalam hidup, yang akhirnya dapat melemahkan semangat bekerja dan bersikap apatis.
  • Kemiskinan dapat menimbulkan rasa iri hati terhadap orang lain yang kaya. Iri hati biasanya diikuti dengan rasa benci, dan baik iri hati maupun benci keduanya akan mengganggu ketenangan jiwa.
  • Ditinjau dari segi lain, kemiskinan dapat mendekatkan manusia kepada kekafiran. Itulah sebabnya Rasulullah Saw bersabda : “Kefakiran itu hampir kepada kekafiran “.

Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah

Ajaran Islam memberi petunjuk agar kita hidup sederhana dalam segala hal, baik ucapan, berpakaian dan sederhana dalam sikap dan perilaku. Allah Swt berfirman :

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (QS. Luqman : 19)

Pada ayat di atas Allah Swt memberikan tuntunan bagaimana caranya melangkah dan bersuara, karena kedua perbuatan itu paling nampak dan paling menonjol. Namun kiranya maksud ayat tersebut tidak terbatas pada langkah dan suara secara lahir, tapi juga dalam arti yang luas. Dalam segala hal hendaknya kita bersikap wajar, tidak berlebihan.

Kepada orang yang kaya diperintahkan dermawan, suka menolong dan mengasihi yang miskin. Kepada yang miskin diperintahkan agar mau bekerja keras dan sabar. Baik kepada yang kaya maupun yang miskin agama tetap menganjurkan agar hidup sedehana dan hemat.

Bagi yang kaya, hidup sederhana dan hemat adalah untuk menghindarkan sifat boros dan untuk menolong yang membutuhkan. Bagi yang miskin, hidup sederhana dan hemat adalah untuk modal awal dalam mengubah nasibnya. Apabila yang kaya hidup mewah dan berfoya-foya, maka mereka tidak akan mampu merasakannya pahit getirnya hidup miskin. Lama kelamaan orang miskin merasa benci dan muak melihat tingkah laku yang kaya, sehingga akibatnya masyarakat tidak stabil.

Oleh karena itu, melalui mimbar ini kami mengajak kepada saudara kita yang diberi nikmat harta kekayaan, agar mau menyisihkan sebagian dari kekayaannya untuk membantu fakir miskin yang membutuhkan juga kegiatan sosial lainnya. Sebab pada dasarnya menafkahkan harta untuk kepentingan agama Allah adalah sama halnya dengan melipatgandakan hartanya sendiri.

Dan sudah menjadi sunnah Allah barangsiapa yang akan menanam kebaikan tentu akan menuai kebaikan, dan sebaliknya barangsiapa yang menanam keburukan tentu akan mendapat hasilnya berupa kerugian. Sebagaiman firman Allah Swt :

“Dan harta yang kamu sumbangkan adalah untuk dirimu sendiri “. (QS. Al-Baqarah:272)

Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam sedekah. Beberapa hikmah sedekah yang bisa dijadikan sandaran untuk meningkatkan sedekah kita sebagai berikut :

  • Sedekah dapat membersihkan diri dan harta yang miliki, terutama dosa-dosa yang bersemayam dalam diri kita.
  • Memperpanjang umur. Kematian adalah hak Allah Swt. Justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah Swt. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad Saw bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. Jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, maka itu adalah sedekah.

Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah

Jadi jelaslah bahwa hidup sederhana adalah merupakan salah satu sifat kepribadian yang terpuji. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang Islam. Sebaliknya, tidak bersifat sombong dan angkuh, karena sifat-sifat tercela tersebut adalah amalan syaitan, yang akan meluncurkan derajat manusia lebih rendah dari derajat binatang.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki) itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman”. (QS. Ar-Ruum:37)

Baarakallahu lii walakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’anii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakim. Wa taqabbala minni waminkum tilawatahu innahu huwas sami’ul ‘alimm. Wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahiminn.

 

demikianlah beberapa referensi khutbah jumat, semoga bermanfaat

Must Read!!